risiko mengosongkan kolam renang

Kolam Renang Kosong Tanpa Diisi Air, Apakah Ada Risikonya?

Properti yang jarang dihuni cenderung mengalami kerusakan lebih cepat dibandingkan dengan hunian yang ditempati secara rutin. Apalagi kalau properti tersebut memiliki kolam renang, perlu dilakukan perawatan rutin.

Kenapa tidak dikosongkan saja airnya? Mungkin kamu sempat terpikir, “Daripada repot merawat dan membeli bahan kimia, lebih baik airnya dikuras habis sampai saya kembali.” Namun, langkah ini juga memiliki risiko yang justru menjadi kesalahan paling fatal. Karena langkah tersebut dapat menyebabkan kerusakan struktur kolam dan biaya tambahan saat pengisian ulang nantinya.

Artikel ini memberikan gambaran mengapa mengosongkan kolam renang dalam jangka panjang dapat berdampak buruk bagi kondisi dan struktur kolam renang.

Risiko Mengosongkan Kolam Renang

Mengosongkan kolam renang mungkin terasa seperti jalan pintas yang praktis, namun jangan lupakan risiko-risiko berikut:

  1. Risiko Tekanan Hidrostatik
    Tanah di sekitar dan di bawah kolam renang umumnya mengandung air tanah yang terus memberikan tekanan ke atas (hydrostatic pressure). Dalam kondisi normal, berat air di dalam kolam renang bisa mencapai puluhan hingga ratusan ton yang berfungsi menahan tekanan tersebut agar tetap seimbang.

    Namun beda cerita saat kolam renang dikosongkan, tekanan dari bawah menjadi tidak terkontrol, sehingga dapat menyebabkan kolam retak, melengkung, bahkan terangkat keluar dari tanah seperti perahu yang mengapung.

  2. Risiko Kerusakan Material Finishing dan Mekanikal
    Material pelapis (keramik, mozaik, atau batu alam) akan mengalami pemuaian yang tidak stabil jika kering dan terpapar sinar matahari langsung. Ini memicu keretakan atau lepasnya material  finishing.

    Selain itu komponen karet (seal, O-ring) pada pompa dan lampu kolam renang akan mengering, menyusut, dan hancur. Hal ini kemudian memicu kebocoran masif saat kolam diisi air kembali.

  3. Risiko Kesehatan dan Keselamatan
    Air hujan yang menggenang sedikit di dasar kolam tanpa sirkulasi akan menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk demam berdarah tercepat. Selain itu kedalaman kolam kosong menjadi ancaman jatuh bagi anak-anak atau hewan peliharaan. Tanpa ada air yang meredam benturan kemungkinan cidera akan jauh lebih besar.

 

Kapan Kolam Renang Boleh Dikosongkan?

Pengosongan umumnya dilakukan saat pemeliharaan atau renovasi kolam renang. Tidak semua pemeliharaan harus mengosongkan kolam renang, hanya bagian spesifik tertentu yang membutuhkan pengosongan.

Yang paling umum adalah perbaikan retak, acid washing, atau renovasi material.

Pengosongan wajib memastikan katup pelepas tekanan hidrostatik (hydrostatic relief valve) berfungsi. Serta hindari pengosongan saat musim hujan lebat karena tekanan air tanah sedang berada di level tertinggi.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Mengosongkan kolam renang bukanlah solusi yang hemat dalam jangka panjang. Risiko kerusakan struktur akibat tekanan tanah atau masalah teknis lainnya dapat menimbulkan biaya perbaikan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya rutin seperti listrik pompa dan penggunaan bahan kimia.

Sebagai alternatif, disarankan untuk tetap menjaga kolam dalam kondisi terisi dan terawat. Penggunaan pool cover dapat membantu mengurangi penguapan, menjaga kebersihan air, serta menekan biaya perawatan.

Selain itu, kamu juga dapat mempertimbangkan menggunakan jasa perwatan kolam renang profesional dari Bali Arsitek untuk memastikan kolam tetap dalam kondisi optimal, terutama saat properti tidak ditempati dalam waktu lama.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kolam renang sebaiknya tidak dibiarkan kosong terlalu lama, idealnya hanya saat perbaikan dan tidak lebih dari beberapa hari hingga maksimal sekitar 1–2 minggu, tergantung kondisi tanah dan struktur.

Pengeringan kolam pun tidak perlu dilakukan rutin, cukup saat ada perbaikan besar atau penggantian finishing, bukan sebagai bagian dari perawatan berkala.

Artikel Terkait

- artikel menarik lainnya yang mungkin anda butuhkan -